Bayi Tabung dalam Pandangan Islam

Posted on Updated on

bismilah-trasnparent1_4_zps5eef6a31
Assalamualaikum muslim dan muslimah yang insyaallah dirahmati Allah Swt… bagaimana kabarnya? semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya, amiiin wah kali ini kita mau membahas tentang apa yaa? kali ini saya ingin membahas tentang Bayi Tabung, pasti menarik bukan? pembahasan mengenai bayi tabung ini saya jelaskan dari sisi Agama Islam, jadi mari kita simak bersama yaa

janin-9-bulan3
 sumber:http://www.hidayatullahmakassar.com/wp-content/uploads/janin-9-bulan3.jpg

setiap insan manusia pasti ingin memiliki keturunan dengan berbagai tujuan salah satunya untuk melangsungkan keturunan dalam keluarganya, keinginan tersebut pasti selalu ada disetiap pasangan yang sudah menikah. Beberapa dari mereka ada yang menunda kehamilan dan tidak jarang pula ingin segera mendapat momongan, namun tidak semudah itu kini ada beberapa kasus pasangan yang sudah menikah justru kesulitan mendapatkan anak padahal mereka sudah sangat menantikan kehadiran anak di keluarga kecil mereka. Banyak hal yang menyebabkan pasangan suami istri kesulitan mendapat momongan seperti gaya hidup yang tidak sehat yang mempengaruhi kesuburan pasangan tersebut hinmgga pengaruh hormon seks yakni estrogen pada wanita dan tetosteron pada pria yang tidak mendukung dalam proses pembuahan.

Seiring perkembangan zaman ilmu kesehatan menemukan inovasi terbaru terkait kesulitan memiliki momongan sehingga untuk mengatasi masalah tersebutdibuatlah salah satu teknologi yang disebut Bayi Tabung yang membantu proses pembuahan

701

sumber: http://www.ummi-online.com/foto_berita/701.jpg

eitts tunggu dulu bayi tabung yang dimaksud tidak seperti animasi gambar diatas, itu hanya perumpaan saja ya muslim dan muslimah..seblum membahas mengenai bayi tabung menurut pandangan islam kita bahas dulu yuk mengenai apa itu bayi tabung..

Apa sih Bayi Tabung itu?

Bayi tabung itu sebenarnya adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita, dalam istilah medis in vitro vertilization (IVF). In vitro adalah bahasa latin yang berarti dalam gelas/tabung gelas dan vertilization atau yang berarti pembuahan. Proses bayi tabung atau IVF, sel telur yang sudah matang diambil dari indung telur lalu dibuahi dengan sperma di dalam sebuah medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke dalam rahim dengan harapan dapat berkembang menjadi bayi dalam rahim. Istilah Bayi Tabung dalam bahasa kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF) adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan mempertemukan sel sperma dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada kondisi normal, pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba. Proses yang berlangsung di laboratorium ini dilaksanakan sampai menghasilkan suatu embrio yang akan ditempatkan pada rahim ibu. Embrio ini juga dapat disimpan dalam bentuk beku dan dapat digunakan kelak jika dibutuhkan. Bayi tabung dinilai merupakan salah satu alternatif bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan momomgan secara normal yang disebabkan saat vertilisasi ovum wanita dan sperma pria tidak dapat bertemu bisa karena gangguan pada asaluran tuba fallopi yakni saluran bertemunya antara sperma dan ovum yang sudah matang atau banyak faktor lain yang menyebabkan tidak bertemunya antara ovum dan sperma.

In vitro fecundation using sperm (cold color)Manfaat-Sperma

sumber: http://kobietapo30.pl/wp-content/uploads/2014/10/jajeczko.jpg

Bayi tabung pertama yang lahir ke dunia adalah Louise Joy Brown pada tahun 1978 di Inggris.

louis_tumb

sumber: http://adm.pasbanget.co/gallery/images/JULI/25/louis_tumb.jpg

Bagaimana Proses Terjadinya Bayi Tabung?

Melanjutkan pembahasan diatas bayi tabung merupakan pilihan terakhir bagi mereka yang ingin mendapatkan keturunan namun sampai saat ini belum juga mendapatkan kehamilan.

  • Perjuangan Sperma Menembus Sel Telur
persenyawaan-sperma-dan-ovum
sumber: http://jomvitamin.com/v1/wp-content/uploads/2013/12/persenyawaan-sperma-dan-ovum.jpg
Untuk mendapatkan kehamilan, satu sel sperma harus bersaing dengan sel sperma yang lain. Sel Sperma yang kemudian berhasil untuk meneronos sel telur merupakan sel sperma dengan kualitas terbaik saat itu.
  • Perkembangan Sel telur

perkembangan-zigot-dalam-rahim-ilustrasi-_120214210043-434

sumber:http://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_sub/perkembangan-zigot-dalam-rahim-ilustrasi-_120214210043-434.jpg

Selama masa subur, wanita akan melepaskan satu atau dua sel telur. Sel telur tersebut akan berjalan melewati saluran telur dan kemudian bertemu dengan sel sperma pada kehamilan yang normal.
  • Injeksi

Dalam IVF, dokter akan mengumpulkan sel telur sebanyak-banyaknya. Dokter kemudian memilih sel telur terbaik dengan melakukan seleksi. sahabat gapteknews.info pada proses ini pasien disuntikkan hormon untuk menambah jumlah produksi sel telur. Perangsangan berlangsung 5 – 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan siap dibuahi. Proses injeksi ini dapat mengakibatkan adanya efek samping.

  • Pelepasan Sel telur

Setelah hormon penambah jumlah produksi sel telur bekerja maka sel telur siap untuk dikumpulkan. Dokter bedah menggunakan laparoskop untuk memindahkan sel-sel telur tersebut untuk digunakan pada proses bayi tabung (IVF) berikutnya.

  • Spema beku

Sebelumnya suami akan menitipkan sperma kepada laboratorium dan kemudian dibekukan untuk menanti saat ovulasi. Sperma yang dibekukan disimpan dalam nitrogen cair yang dicairkan secara hati-hati oleh para tenaga medis.

  • Menciptakan Embrio

Pada sel sperma dan sel telur yang terbukti sehat, akan sangat mudah bagi dokter untuk menyatukan keduanya dalam sebuah piring lab. Namun bila sperma tidak sehat sehingga tidak dapat berenang untuk membuahi sel telur, maka akan dilakukan ICSI.http://www.gapteknews.info

  • Embrio Berumur 2 hari

Setelah sel telur dipertemukan dengan sel sperma, akan dihasilkan sel telur yang telah dibuahi (disebut dengan nama embrio). Embrio ini kemudian akan membelah seiring dengan waktu. Embrio ini memiliki 4 sel, yang diharapkan mencapai stage perkembangan yang benar.

Lalu, Aapakah Program Bayi Tabung Memiliki dampak tersendiri?

proses-pembuatan-bayi-tabung

sumber: http://bayi-tabung.org/dampak-bayi-tabung/

setiap tindakan yang dilakukan manusi pasti akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung seperti pembalasan Allah SWT atas segala kesalahan dimasa hidup. Tidak terkecuali program bayi tabung memiliki dampak baik itu negatif dan positif, berikut ini pertimbangan dampak yang akan diperoleh

Dampak bayi tabung positif – Bioteknologi memberikan dampak positif dalam bidang kesehatan, misalnya dengan dikembangkannya teknik bayi tabung yang dapat membantu pasangan suami-istri untuk mendapatkan keturunan serta pemanfaatan  bakteri dalam rekayasa genetika sehingga dihasilkan insulin buatan. Dampak bayi tabung negatif – Dampak negatif penerapan bioteknologi terdapat pada berbagai aspek kehidupan seperti etika dan moral, lingkungan hidup, sosial dan ekonomi serta kesehatan. Seperti bayi tabung dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum alam dan sulit untuk diterima masyarakat. dari sisi kesehaan inilah dampaknya:

  1. Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS), merupakan komplikasi dari proses stimulasi perkembangan telur dimana banyak folikel yang dihasilkan sehingga terjadi akumulasi cairan di perut. Cairan bisa sampai ke rongga dada dan yang paling parah harus masuk rumah sakit karena cairan harus dikeluarkan dengan membuat lubang dibagian perut. Jika tidak dikeluarkan bisa menggangu fungsi tubuh yang lain.
  2. Kehamilan kembar, bukan merupakan rahasia lagi kalau proses bayi tabung bisa menghasilkan lebih dari satu bayi. Yang tentu saja resiko melahirkannya lebih tinggi dibandingkan hanya satu bayi. Tidak jarang bayinya bisa masuk ICU karena prematur.
  3. Keguguran. Ini memang bisa juga terjadi pada kehamilan normal. Tingkat keguguran kehamilan bayi tabung sekitar 20%.
  4. Kehamilan diluar kandungan atau kehamilan ektopik, kemungkinan terjadi sekitar 5%.
  5. Resiko pendarahan pada saat pengambilan sel telur (Ovum Pick Up), sangat jarang terjadi.  Karena prosedurnya menggunakan jarum khusus yang dimasukkan ke dalam rahim, resiko pendarahan bisa terjadi yang tentunya membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Bagaimana Islam Memandang Tentang Bayi Tabung?

Fatwa-Bayi-Tabung-Dalam-Agama-Islam

sumber:http://channelkesehatan.com/wp-content/uploads/2014/10/Fatwa-Bayi-Tabung-Dalam-Agama-Islam.jpg

tidak dapat dipungkiri profesi perawat sanga dekat dengan kasus ini yakni bayi tabung, saat terjun ke rumah sakit dan menangani kasus maternitas maka tidak jarang menemui klien dengan keluhan sulit mendapat momongan dan hendak melakukan program bayi tabung.,

kita sebagai perawat muslimah harus mampu memberikan pandanganpandangan tentang bayi tabung dari sisi agama islam apabila klien kita beragam islam, maka berikut ini pemaparan hukum bayi tabung menurut islam.

Masalah bayi tabung (Athfaalul Anaabib) ini menurut pandangan Islam termasuk masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya secara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih klasik sekalipun. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah ini hendak dikaji menurut Hukum Islam  dengan menggunakan metode ijtihad yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah mengenai bayi tabung ini sebaiknya menggunakan pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar. Misalnya menggunakan ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan etika. Dua tahun sejak ditemukannya teknologi ini, para ulama di Tanah Air telah menetapkan fatwa tentang bayi tabung/inseminasi buatan.

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwany pada tanggal 13 Juni 1979 menetapkan 4 keputusan terkait masalah bayi tabung, diantaranya :

1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama. Asal keadaan suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena dengan cara pembuahan alami, suami istri tidak berhasil memperoleh anak. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih

اَلْحَاجَةُ تَنِْزلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ وَالضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Hajat (kebutuhan yang sangat penting) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa. Padahal keadaan darurat/terpaksa itu membolehklan melakukan hal-hal yang terlarang”. 2. Sedangkan para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain dan itu hukumnya haram, karena dikemudian hari hal itu akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya). 3. Bayi Tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah. Sebab, hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik baik kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam hal kewarisan. 4. Bayi Tabung yang sperma dan ovumnya tak berasal dari pasangan suami-istri yang sah hal tersebut juga hukumnya haram. Alasannya, statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis diluar pernikahan yang sah alias perzinahan.

  • Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait masalah dalam Forum Munas di Kaliurang, Yogyakarta pada tahun 1981. Ada 3 keputusan yang ditetapkan ulama NU terkait masalah Bayi Tabung, diantaranya :

1.  Apabila mani yang ditabung atau dimasukkan kedalam rahim wanita tersebut ternyata bukan mani suami-istri yang sah, maka bayi tabung hukumnya haram. Hal itu didasarkan pada sebuah hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam pandangan Allah SWT, dibandingkan dengan perbuatan seorang lelaki yang meletakkan spermanya (berzina) didalam rahim perempuan yang tidak halal baginya. 2.  Apabila sperma yang ditabung tersebut milik suami-istri, tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtaram, maka hukumnya juga haram. Mani Muhtaram adalah mani yang keluar/dikeluarkan dengan cara yang tidak dilarang oleh syara’. Terkait mani yang dikeluarkan secara muhtaram, para ulama NU mengutip dasar hukum dari Kifayatul Akhyar II/113. “Seandainya seorang lelaki berusaha mengeluarkan spermanya (dengan beronani) dengan tangan istrinya, maka hal tersebut diperbolehkan, karena istri memang tempat atau wahana yang diperbolehkan untuk bersenang-senang.”  3.  Apabila mani yang ditabung itu mani suami-istri yang sah dan cara mengeluarkannya termasuk muhtaram, serta dimasukkan ke dalam rahim istri sendiri, maka hukum bayi tabung menjadi mubah (boleh). Berikut ini dalil-dalil syar’i yang dapat menjadi landasan hukum untuk mengharamkan inseminasi buatan dengan donor, ialah sebagai berikut: Surat Al-Isra ayat 70 :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ  كَثِيرٍ مِمَّنْ

  خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami meliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Surat At-Tin ayat 4 :    

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya sendiri dan juga menghormati martabat sesama manusia. Sebaliknya inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya merendahkan harkat manusia (human dignity) sejajar dengan hewan yang diinseminasi.

11-040214-1d9ff240c3e308bbayi+muslim+cakep+ganteng

sehingga dapat disimpulkan mengenai hukum bayi tabung menurut islam yakni tergantung mekanisme pelaksaannya:

Ada 2 hal yang menyebutkan bahwa bayi tabung itu halal, yaitu: 1. Sperma tersebut diambil dari si suami dan indung telurnya diambil dari istrinya kemudian disemaikan dan dicangkokkan ke dalam rahim istrinya. 2. Sperma si suami diambil kemudian di suntikkan ke dalam saluran rahim istrinya atau langsung ke dalam rahim istrinya untuk disemaikan. Hal tersebut dibolehkan asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan. Namun sebaliknya, ada 5 hal yang membuat hukum bayi tabung menjadi haram yaitu: 1. Sperma yang diambil dari pihak laki-laki disemaikan kepada indung telur pihak wanita yang bukan istrinya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya. 2. Indung telur yang diambil dari pihak wanita disemaikan kepada sperma yang diambil dari pihak lelaki yang bukan suaminya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si wanita. 3. Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari sepasang suami istri, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim wanita lain yang bersedia mengandung persemaian benih mereka tersebut. 4. Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari lelaki dan wanita lain kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si istri. 5. Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari seorang suami dan istrinya, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya yang lain.

Referensi :

Al-Qur’an

Hadits

Bayi Tabung. [online]. tersedia dalam http://www.blogdokter.net/2010/03/21/bayi-tabung/ diakses diakses tanggal 1 Juni 2015 pukul 10.22

Proses Terjadinya Bayi Tabung. [online]. tersedia dalam http://www.anehdidunia.com/2012/07/proses-terjadinya-bayi-tabung.html diakses tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.11

Dampak Bayi Tabung.[online]. tersedia dalam http://bayi-tabung.org/dampak-bayi-tabung/ diakses tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.32

Hukum Bayi Tbung.[online]. tersedia dalam http://bayi-tabung.org/hukum-bayi-tabung/ diakses tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.48